ahmad kamil menghafal cepat

Cara Ahmad dan Kamil Menghafal Quran

Ahmad dan Kamil merupakan penghafal Al Qur’an yang merupakan juara Hafiz Cilik Indonesia. Ahmad, yang bernama lengkap Muhammad Ghozali Akbar, adalah seorang anak yatim asal Tegal yang berusia 11 tahun. Sedangkan Kamil Ramadhan, atau akrab disapa Kamil, merupakan anak yatim asal Magelang berusia 12 tahun. Mereka berdua adalah santri pesantren de Muttaqin yang terletak di daerah Yogyakarta. Keduanya alhamdulillaah dapat menyelesaikan hafalan kurang dari satu tahun. Ahmad menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu 8,5 bulan. Adapun Kamil menamatkan hafalan 30 juz nya dalam waktu 6,5 bulan.

Keberhasilan mereka dalam menghafal tentu tidak lepas dari peran pengasuh dan pembimbingnya selama di pesantren. Berikut akan kami sajikan perjalanan Ahmad dan Kamil dalam menghafal AL Qur’an kurang dari Satu Tahun di Pondok Pesantren De Muttaqin Yogyakarta. Oleh sebab itu kami akan jelaskan cara Ahmad dan Kamil Menghafal Quran

Kemauan Ahmad dan Kamil Menghafal Quran

Ketua Yayasan De Muttaqin, Ustadz Ike Muttaqin menyampaikan bahwa kunci terpenting dari keberhasilan menghafal ada 3 hal, yaitu mau, tulus dan sungguh-sungguh. Bukan hanya dari para santri, tetapi juga dari guru-guru yang mengajar di pesantren. Ketiga hal ini sangat penting untuk ditekankan kepada guru dan santri yang ada di pesantren, karena tanpa tiga hal ini, maka proses hafalan yang berlangsung tidak akan bisa maksimal. Sebagai contoh, jika ada guru yang tidak memiliki kemauan untuk mendidik murid-muridnya, maka muridpun tidak akan bisa untuk menghafalkan Al Quran dengan baik.

Murid juga harus senantiasa dimotivasi dan ditanamkan kepada diri mereka masing-masing agar memiliki kemauan yang kuat. Dengan adanya kemauan yang kuat, kesungguhan dari guru dan murid serta ketulusan dalam menghafal dan mengajar, maka tujuan utama untuk menghafal Al Qur’an dapat tercapai, sebagaimana yang dirasakan sendiri oleh Ahmad dan Kamil.

Membuat Senang Santri dan Memberikan Motivasi Tambahan

Untuk menjaga semangat para santri untuk menghafal, Pesantren De Muttaqin memakai berbagai metode. Menurut Ust Ike, salah satu metode yang ampuh adalah senantiasa menyenangkan para santri yang ada di pesantren. Cara untuk menyenangkan merekapun bermacam-macam, diawali dengan memberikan makanan yang baik, bergizi dan enak, mengadakan acara wisata ke pantai, waterboom, atau perpustakaan.

Selain itu, para santri juga diberikan hadiah jika berhasil mencapai target tertentu. Contohnya jika santri dapat menghafal 10 juz dalam 6 bulan, maka santri akan diajak berwisata ke Jakarta menggunakan pesawat. Mereka berwisata ke TMII, Dufan, Monas hingga Masjid Istiqlal. Contoh hadiah lainnya adalah hadiah umroh gratis jika santri berhasil menghafalkan 30 juz dalam waktu 1.5 tahun. Dengan adanya reward seperti ini, maka santri akan semakin terdorong untuk menghafalkan Al Qur’an. Seperti inilah cara Ahmad dan Kamil menghafal Quran.

Di samping hadiah-hadiah tersebut, motivasi mengenai keutamaan hafizh Al Qur’an juga senantiasa ditanamkan kepada para santri. Kamil misalnya, ia bercita-cita untuk memberikan mahkota kepada kedua orangnya di surga. Karena cita-citanya itulah ia berusaha keras untuk bisa menjadi hafiz Al Qur’an.

Disiplin dan Menyusun Target Hafalan Quran

Di Pondok Pesantren De Muttaqin, sekalipun menyenangkan santri adalah prioritas, namun disiplin harus tetap berjalan. Ust Ike menegaskan bahwa disiplin harus ditegakkan, khususnya dalam hal pencapaian target. Ust. Setiawan Bakhtiar selaku guru tahfizh Pesantren De Muttaqin menyampaikan bahwa setiap santri diwajibkan menghafal minimal satu halaman dalam sehari.

Sebelum menghafal, para santri akan melalui tahap pertama di mana mereka harus melancarkan bacaan Al Qur’an terlebih dahulu. Setelah bacaan Al Qur’an sudah baik dan sesuai makhraj serta tajwidnya, maka santri masuk ke tahapan menghafal. Di sini guru akan men talqin (membaca dengan lantang dan santri mendengarkan) para santri sebanyak satu halaman. Kemudian para santri menirukannya. Bisa juga proses talqin dilaksanakan per ayat. Hal ini untuk menjaga tingkat kebenaran bacaan para santri, sehingga diharapkan hafalannya tidak akan salah makhraj dan tajwidnya.

Selain itu, jika dirasa santri ini mampu, maka target hariannya akan dinaikkan. Kamil contohnya. Pada saat pertama kali Kamil masuk pesantren, ia sama sekali tidak memiliki hafalan. Kemudian gurunya men tahsin bacaannya sambil ia menghafal juz ‘amma. Di awal proses menghafal, Kamil ditarget ½ halaman, kemudian naik 1 halaman, naik kembali 2 halaman. Sampai pada akhirnya Kamil bisa menambah 5 halaman hafalan baru dalam satu hari. Tanpa ada disiplin dan target dari gurunya, maka Kamil tidak akan bisa menghafal Al Qur’an dalam waktu 6.5 bulan.

Tips agar anak mengahafal Quran

Istiqomah dalam Menghafal dan Muroja’ah Quran

Untuk bisa menghafal Al Qur’an kurang dari satu tahun seperti Ahmad dan Kamil, Istiqomah merupakan sesuatu yang wajib. Sebagai contoh, Ahmad mulai menghafal dari setelah sholat Subuh hingga pukul 9 pagi. Kemudian dilanjutkan muroja’ah hingga pukul 12 siang. Begitu seterusnya Ahmad dan kawan-kawannya di pesantren Istiqomah dalam menghafal Al Qur’an. Dengan pola menghafal yang kontinu seperti itu, maka tidak heran jika Ahmad berhasil menghafalkan Al Qur’an kurang dari satu tahun, atau tepatnya 8.5 bulan. Cara Ahmad dan Kamil menghafal Quran memang istimewa.

Setelah selesai hafalan 30 juz, tantangan yang lebih berat telah menanti, yaitu menjaga hafalan tersebut. Kamil contohnya. Kamil melakukan muroja’ah setiap harinya minimal 7 juz. Pada waktu normal Kamil bisa melakukan muroja’ah 10-15 juz dalam satu hari. Kamil mulai melakukan muroja’ah mulai dari pukul 3 pagi hingga 9 malam. Ust Ike menambahkan, untuk mencapai hafalan yang mantap hingga ke baris ayat dan posisi ayat, diperlukan usaha yang keras dan waktu yang cukup panjang. Jika tidak istiqomah, maka akan sangat sulit untuk santri bisa menghafal Al Qur’an. Jika setelah hafal 30 juz tidak istiqomah melakukan muroja’ah, maka hafalan bisa hilang tanpa bekas.

Demikianlah sekilas kisah Ahmad dan Kamil dalam menghafal Al Qur’an kurang dari satu tahun di Pesantren De Muttaqin. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejak mereka berdua untuk bisa menjadi hafizh Al Qur’an. Aamiin Ya Rabb

*sumber: wawancara Yufid TV dengan Ust Ike Muttaqin dan Ust Setiawan Bakhtiar di Pesantren De Muttaqin Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *